Membangun Jiwa Wirausaha di Kalangan Mahasiswa: Kunci Menuju Indonesia Emas 2045
Cari Berita

Iklan 970x90px

Membangun Jiwa Wirausaha di Kalangan Mahasiswa: Kunci Menuju Indonesia Emas 2045

Senin, 17 Februari 2025

M Ahyar Putra SE.MM

Foto: Redaksi Pelopor 

 

Oleh : M. Ahyar Putra, S.E., M.M.

Dosen Progran Studi Perdagangan Internasional Universitas Mbojo Bima


Bima, Peloporntb.com - Philip Kotler dalam bukunya marketing 4.0 mengatakan telah terjadi pergeseran ekonomi dari yang sebelumnya terkonsentrasi pada beberapa negara adidaya menjadi lebih merata dan tersebar, negara-negara berkembang kemudian muncul dengan kekuatan ekonomi baru. Hegemoni Amerika Serikat sebagai poros ekonomi dunia juga telah bergeser, data yang dikumpulkan Robert Litan tentang usaha rintisan di Amerika Serikat yang 30 tahun lalu mencapai angka 15% dari seluruh perusahaan di negara tersebut, beberapa tahun kebelakang hanya berada pada angka 8%. Lintasan tersebut berbanding terbalik dengan negara asia seperti China dan Korea Selatan. Pergeseran ekonomi ini kerap dikaitkan dengan profil demografi pada pasar berkembang yang lebih muda, lebih produktif dan tumbuh dalam tingkat pendapatan. Para pebisnis di negara-negara berkembang dengan medium internet kemudian dapat dengan mudah menarik informasi terhadap bisnis yang berkembang di negara maju, sebut saja Gojek di Indonesia atau Grab di Malaysia yang terinspirasi dari Uber di Amerika, mereka bisa meniru bahkan sebelum perusahaan Amerika tersebut menginjakkan kaki di dua negara tersebut.

Kemenko Perekonomian RI (2024) menyatakan bahwa selama tahun 2023 pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu berada di atas angka 5% cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya, hal ini didorong oleh tingginya konsumsi rumah tangga dan meningkatnya investasi dalam negeri. Lebih jauh Kemenko Perekonomian RI (2022) mencatat bahwa dari keseluruhan unit usaha yang ada di Indonesia, 99% di antaranya adalah UMKM (usaha mikro kecil dan menengah). UMKM terbukti telah berhasil menjadi motor penggerak prekonomian Indonesia yang bahkan mampu bertahan pada saat krisis moneter tahun 1998. Saat ini rasio kewirausahaan nasional baru mencapai angka 3,47%, sementara untuk menjadi negara maju sesuai dengan moto “Indonesia Emas 2045” setidaknya Indonesia perlu mendorong peningkatan jumlah UMKM dalam negeri setidaknya hingga angka 12%.

Melihat target peningkatan UMKM yang tinggi tersebut, maka perlu dilakukan langkah-langkah kongkrit dalam mendorong pertumbuhannya. Undang-undang nomor 20 tahun 2008 tentang UMKM telah dijelaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah melalui dinas terkait berkepentingan menumbuhkan iklim usaha melalui kebijakan yang meliputi aspek pendanaan, sarana dan prasarana, informasi usaha, kemitraan, perizinan usaha, kesempatan berusaha, promosi dagang, dan dukungan kelembagaan. Selain itu, dunia usaha dan masyarakatpun diminta berperan serta secara aktif membantu menumbuhkan iklim usaha sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. Lebih jauh dari semua itu, menumbuhkan jiwa berwirausaha pada generasi muda dan merubah paradigma berfikir generasi muda sebagai penerus tentang wirausaha menjadi poin yang paling penting, sebab selama ini masih banyak anak muda yang berfikir bahwa goal atau pelabuhan terakhir dari rangkaian pendidikan formal yang mereka jalani dari sekolah menengah hingga pendidikan tinggi adalah untuk menjadi pegawai kantoran yang padahal angka serapan tenaga kerjanya sangat jauh jika dibandingkan dengan UMKM yang mencapai 96% (Kemenko Perekonomian, 2022).

Perguruan tinggi sebagai ruang akademik sudah sepatutnya ikut bertanggung jawab dan berperan penting dalam merubah paradigma berfikir dari generasi muda ini terutama terhadap lulusan-lulusannya agar menjadi lulusan yang kritis dan inovatif setelah lulus dari bangku perkuliahan, apalagi melihat fakta yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia bahwa pada tahun 2024 saja angka pengangguran untuk lulusan perguruan tinggi telah meningkat tajam hingga dua kali lipat yaitu diangka 842.378 orang dibandingkan pada tahun 2014. Salah satu peran utama perguruan tinggi dalam menumbuhkan minat wirausaha di kalangan mahasiswa adalah dengan menyediakan kurikulum yang mendorong kreativitas, inovasi, dan keberanian dalam mengambil risiko. Mata kuliah kewirausahaan seharusnya tidak hanya membahas teori, tetapi juga memberikan pengalaman praktis, seperti simulasi bisnis, studi kasus, serta kesempatan untuk menjalankan usaha kecil selama perkuliahan. Dengan pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami konsep wirausaha secara akademik, tetapi juga terbiasa menghadapi tantangan bisnis di dunia nyata.

Selain kurikulum, perguruan tinggi dapat berperan sebagai inkubator bisnis yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan ide-ide kreatif mereka menjadi bisnis yang nyata. Keberadaan inkubator bisnis yang didukung oleh mentor dari kalangan akademisi maupun praktisi industri dapat menjadi faktor penentu keberhasilan mahasiswa dalam memulai usaha. Di lingkungan ini, mahasiswa dapat mengakses pendanaan awal, bimbingan profesional, serta jaringan bisnis yang dapat membantu mereka bertahan dan berkembang di pasar yang kompetitif. Tidak hanya itu, universitas juga dapat menjembatani mahasiswa dengan dunia industri melalui program magang berbasis kewirausahaan. Dengan demikian, mahasiswa memiliki kesempatan untuk belajar langsung dari pelaku usaha, memahami dinamika pasar, serta membangun relasi bisnis sebelum benar-benar terjun ke dunia usaha. Kolaborasi dengan perusahaan rintisan (startup) dan pengusaha sukses juga dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk lebih percaya 


diri dalam merintis bisnis mereka sendiri.

Selain fasilitas dan program akademik, budaya kewirausahaan di kampus juga sangat menentukan keberhasilan dalam mencetak wirausahawan muda. Kampus perlu menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi, di mana mahasiswa merasa terdorong untuk berani mencoba, gagal, dan belajar dari kegagalan tersebut. Seminar, kompetisi bisnis, serta komunitas kewirausahaan di kampus dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk bertukar ide dan mendapatkan motivasi dari sesama calon pengusaha. Dengan berbagai upaya ini, perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai katalisator yang mendorong lahirnya generasi muda yang mandiri, kreatif, dan berani berwirausaha. Di era persaingan global dan revolusi digital saat ini, lulusan yang memiliki jiwa kewirausahaan akan memiliki daya saing lebih tinggi, tidak hanya sebagai pencari kerja, tetapi juga sebagai pencipta lapangan kerja bagi masyarakat luas.

Melalui serangkaian upaya-upaya di atas, maka visi “Indonesia Emas 2045” tidak hanya akan menjadi sebuah visi yang hampa tanpa misi-misi kecil yang tersistem dengan baik, sedikit tidak dengan melahirkan motivasi personal dari lulusannnya untuk berwirausaha, menjadikan lulusan-lulusannya sebagai lulusan yang mampu membaca dan melihat peluang-peluang usaha di sekitar mereka, menjadikan universitas sebagai lingkungan sosial yang mendukung kegiatan-kegiatan wirausaha, atau bahkan menyediakan sumber daya dalam berbagai bentuk yang dapat menjadi stimulus bagi mahasiswa dan lulusannya untuk mulai berwirausaha. (Tim)