![]() |
| Dosen Universitas Mbojo Bima |
(Penulis : Bang Ady Ardyansah, Akademisi Kebijakan Publik Universitas Mbojo Bima – NTB )
Bima, Peloporntb.com - Momen debat bagi pasangan calon Bupati Bima yang berlangsung sabtu 16 November 2024 Pukul 20.00 Wita merupakan saat di mana calon dapat menyampaikan gagasan, pemikiran, atau dalam konteks organisasi visi dan misi, bahkan program bagi pembangunan daerah kedepan. Boleh jadi debat juga merupakan janji politik yang disampaikan kepada khalayak, untuk melihat sejauh mana pasangan calon mampu membawanya pada uraian yang rasional atau masuk akal. Debat sangat efektif sebagai media sosialisasi bahkan promosi bagi calon, karena disaksikan oleh masyarakat secara umum. Apa lagi saat sekarang ini media sosial sangat masif mempengaruhi persepsi publik terhadap figur calon. Tayangan pada chanel youtube sangat mampu memberikan edukasi bagi masyarakat terhadap figur calon yang tampil. Kualitas seorang calon pemimpin secara sepintas dapat kita lihat dari narasi argumentasi pembangunan yang disampaikan, demikian juga kualitas kebijakan yang akan di susunya.
Kemampuan seorang pemimpin dalam menganalisis pertanyaan menjadi bagian penting untuk menjawab persoalan. Apakah narasi itu cukup bisa dimengerti atau malah membingungkan masyarakat maksud argumentasi yang disampaikan. Lempar pertanyaan dan saling menanggapi argumen merupakan hal yang lumrah dalam debat, yang ditunjukan dengan sikap yang rasional bukan emosional. Selama debat hemat penulis tidak ada sikap emosional yang ditunjukan, lebih pada semangat yang tinggi dalam menyampaikan argumentasi, menjawab pertanyaan dan menanggapi pembicaraan lawan.
Debat adalah proses dialektika yang tidak dapat di pandang sepele bagi seorang calon pemimpin atau pemimpin. Debat sama halnya ada lawan bicara terhadap masalah – masalah serius yang di bahas untuk kepentingan organisasi atau dalam konteks ini kepentingan masyarakat. Debat juga merupakan media sosialisasi diri para calo dengan segala kelebihan dan kekurangan masing – masing atas apa yang menjadi gagasan dalam membangun daerah. Tidak bisa kita pandang remeh bahwa debat selalu akan menjadi perhatian masyarakat untuk memberikan penilaian dan menjatuhkan pilihan kepada salah satu pasangan calon, atas apa yang dipaparkan. Ada yang pesimis dan bahkan apatis terhadap proses debat, ada juga yang optimis. Semua itu merupakan respon masyarakat terhadap kenyataan yang diterimanya dalam proses debat yang berlangsung.
Isi debat pada dasarnya merupakan starting point untuk memulai kebijakan yang lebih serius ke depannya. Dalam konteks kebijakan publik boleh jadi debat merupakan wilayah pra formulasi dari sebuah kebijakan yang akan diambil. Oleh karena demikian kemampuan calon pemimpin atau pemimpin dalam berdebat sangat diperlukan, karena sejatinya ke depan mereka akan bernegosiasi, berinteraksi dan bersosialisasi dengan siapapun atas kebijakan yang di ambil. Bagaimana mungkin jika seorang pemimpin tidak mampu berargumentasi secara apik dan menarik, untuk menyampaikan konten dan konteks kebijakan yang diambil. Karena itu inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan, bagaimana jika seorang pemimpi tidak mampu memberikan argumen yang kuat untuk keputusan yang diambil.
Dua pasang calon Bupati Bima saling beradu gagasan dan ide, hemat penulis, paslon 01 lebih melihat permasalahan secara makro, dari hal – hal yang besar sampai mampu menguraikannya dalam hal yang riil. Sedangkan paslon 02 lebih bersifat mikro. Masalah profesionalitas juga ditekankan oleh paslon 01 bahwa “ the right man on the right place “ (orang yang tepat di tempat yang tepat) harus selalu diutamakan. Keadaan ini sejalan dengan konsep islam yang dianut oleh masyarakat bima yang sangat relijius, bahwa “apabila suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancuran (HR Al Bukhori)”. Kondisi ini mampu di baca oleh paslon 01, sedangkan paslon 02 menjawab lebih normatif dan bahkan kurang mampu diuraikan secara akademik. Permasalahan profesionalitas bukan suatu hal yang kecil. Karena profesionalitas yang dapat menggerakan organisasi bekerja dengan maksimal.
Apa bila suatu kebijakan diformulasikan, diimplementasikan dan di evaluasi dengan konsep profesionalisme boleh jadi organisasi akan bekerja maksimal mencapai tujuan, jika itu organisasi publik, maka tujuan kesejahteraan dapat dirasakan dan peningkatan PAD dapat dicapai dengan maksimal. Namun jika bukan profesionalisme yang diperhatikan pada organisasi tersebut hanya akan jalan ditempat. Hanya saja organisasi yang dibahas dalam kebijakan publik adalah organisasi publik yang jika dikelola tidak profesional, tidak berdampak pada kebangkrutan, hanya ketidakmampuan mencapai harapan masyarakat secara utuh yaitu kesejahteraan. Namun jika itu organisasi privat yang dikelola tanpa profesionalitas, kerugian dan bahkan kebangkrutan dapat saja terjadi. Sedangkan organisasi publik tidak mengenal bangkrut, dan tidak ada organisasi publik yang bangkrut.
Jangan sampai pemerintah hanya menjalankan rutinitasnya tanpa ada inovasi pelayanan yang ditawarkan. Isi debat sangat mencerminkan kemampuan dan kualitas paslon. Jika saja paslon tidak mampu menguraikan pertanyaan dan jawaban yang disampaikan, boleh jadi kebijakan yang disusun juga akan seperti isi yang disampaikan, tanpa arah dan tujuan yang jelas. Tidak mampu menyentuh akar permasalahan secara substantif. Seorang pemimpin sejatinya harus mampu mengidentifikasi permasalah, menguraikanya dan menemukan jawaban untuk keluar dari permasalahan yang ada. Kebijakan sesungguhnya adalah jawaban terhadap permasalahan masyarakat, di manapun berada, di kota dan di desa. Jika kita dibanding dengan daerah yang maju, perangkatnya adalah kebijakan publik. Lantas bagaimana dengan kebijakan publik di daerah kita. hal ini akan terlihat dengan kemampuan kepala darahnya dapat menyusunnya dengan berbagai kenyataan yang ada.
Jika seorang calon pemimpin atau pemimpin tidak dapat memberikan jawaban yang rasional terhadap pertanyaan yang disampaikan, dapat kita katakan arah kebijakan bagi pembangunan daerah tidak dapat terbaca dengan baik. Hanya menunggu hasil dengan kerja rutinitas sebagaimana biasa, tanpa ada inovasi pelayanan publik yang diberikan sebagai konsekuensi dari sebuah kebijakan yang akan ditawarkan. Paslon 01 mampu memaparkan salah satu program yang menarik dan berbeda dengan paslon 02, yaitu program selasa menyapa, di hari selasa menyapa masyarakat, bersama masyarakat ngopi bareng di desa. Ini merupakan hal yang menarik perhatian, sebagai salah satu arah pembangunan yang akan dilakukan, untuk menjaring aspirasi masyarakat dan mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan masyarakat secara langsung, agar dapat direspon dengan cepat oleh seorang pemimpin. Seolah paslon 01 ingin menyampaikan bahwa pemerintahan ke depan bagi paslon 01 adalah pemerintah yang siaga, siap dan tanggap terhadap tuntutan kebutuhan dan kepentingan masyarakat.
Sedangkan paslon 02 tidak terbaca argumentasi yang menunjukan arah kebijakan yang inovatif, sebagai gagasan dan janji politik bagi arah kebijakan pembangunan kabupaten Bima kedepan. Apresiasi yang tinggi pada kedua pasangan calon perlu kita sampaikan atas keberanian tampil di panggung debat, dengan segala kemampuan dan kesempatanya. Karena boleh jadi diantara kita belum tentu sanggup ada dalam posisi tersebut, untuk berdebt dalam konteks pembangunan daerah yang lebih serius sebagai arah pembangunan yang dapat kita baca untuk lima tahun kedepan. Konsekuensi dari debat adalah masyarakat menentukan pilihan terbaik untuk pemimpin kabupaten Bima kedepanya.
Semoga dalam proses pemilihan Bupati Bima ke depan lahir pemimpin yang dapat membawa arah kebijakan bagi pembangunan daerah yang lebih baik. Sehingga dengan demikian kualitas seorang pemimpin terlihat dari kualitas kebijakan yang ada. (Bil-01)


